- Nama lengkap : Persip Pekalongan (Persatuan Sepak Bola Indonesia Pekalongan)
- Julukan : Laskar Kalong
- Suporter : BBC, Kalong Mania, Sneper
- Didirikan : 1 April 1950
- Alamat : Jl. Bahagia, Kompleks Olah Raga Kraton di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
- Stadion : Stadion Kota Batik (SKB)
- Kapasitas : 20.000
- Telp. (0285) 424436
MENU
Minggu, 18 Mei 2014
SEJARAH PERSIP
Sepakbola sebagai olahraga rakyat kehadirannya di Pekalongan ternyata mempunyai sejarah yang cukup panjang. Ini bisa dirunut sejak jaman kolonial SEKITAR TAHUN 1920 JAUH SEBELUM pssi BERDIRI (1930) bola sudah menjadi kegiatan yang banyak di tonton warga,kala itu klub asal eropa yaitu dari Austria,sempat bertanding dengan sebuah tim lokal di alun-alun kota pekalongan dan salah satu klub tertua di pekalongan yang pernah tercatat adalah THH,sebuah klub milik warga Tionghoa.
Hebatnya lagi sebagaimana tercatat dalam buku Voetbal 40 Jarr in Nederlands indie,1894-1934 karya W.Berrety. THH merupakan salah satu klub asal Pekalongan yang mengikuti kompetisi yang diadakan NIVU ( Nederlandsche Indishe Voetbal Unie ) atau perkumpulan sepakbola yang diadakan oleh Hindia Belanda.
Tidak mengherankan bila tapak sejarah itu kini mulai dirintis kembali oleh laskar kalong Persip yang mampu menembus level Divisi Utama.
Hadirnya Olahraga Sepakbola di Kota Pekalongan,memang memiliki sejarah yang panjang dan cukup mengakar.pada dekade 1950 – 1960,prestasi sepakbola Pekalongan mulai terangkat naik. Kesebelasan Persip waktu itu,selalu menjadi langganan uji coba Tim Nasional Indonesia asuhan pelatih legendaris Toni Poganic, demikian ungkap pemain legendaris Persip Pekalongan dan juga mantan Pemain Nasional Mubarak Sulaiman.
Menurutnya,”Persip selalu menjadi pilihan uji coba kesebelasan nasional. Pardeteks dan Persija yang waktu itu juara Perserikatan sering meminta ujicoba sebelum mereka melakoni pertandingan internasional di jepang,” ungkapnya.
Sementara lapangan stadion menjadi lokasi ajang pertandingan Persip kala itu dengan Putra Parahiyangan Bandung,Persebaya,PSM Makasar,PSIS Semarang,UMS 80,Jayakarta dan mahesa Jakarta. Diakauinya,dahulu setiap hari jumat hampir pasti ada pertandingan melawan klub-klub besar tanah air di stadion kraton.
Seringnya Persip melakukan pertandingan itulah akhirnya terpantau bisa masuk Tim Nasional.
Meski kala itu belum ada Televisi seperti sekarang,tapi antusiasme warga pekalongan terhadap sepakbola sangat tinggi. Waktu itu sepakbola sangat di gandrungi merata hampir setiap kampung.
Bahkan warga mulai dari batang hingga Comal pemalang,selalu berduyun-duyun datang ke stadion Kraton dengan naik oplet,”gelinding” atau dokar dan sebagian lagi naik sepeda onthel,ungkap Mubarak Sulaiman Kelip yang kini tinggal di salah satu rumah di jalan H.Agus Salim.
DISEGANI
Tak hanya Persip yang menjadi idola kala itu,tapi juga klub sepakbola yang juga sangat disegani oleh tim dari luar pekalongan. Seperti kesebelasan Al-Hilal dan POP,kedua klub ini memiliki segudang pemain berbakat,yang kemudian beberapa orang diantaranya memperkuat timnas Indonesia.
Menurut Farid Akhwan budayawan yang tinggal di pekajangan,mengatakan” cukup banyak pemain-pemain legendaris PS.POP yang ngetop waktu itu seperti Kasmuri dan beerapa pemain hebat lainnya,kita mengenal kakaknya Kasmuri yaitu Wahyono yang bermain sebagai gelandang. Lalu Sukirman kanan dalam. Barki kiri luar. Barki ini mengingatkan kita pada Ryan Giggs pemain sayapnya MU. Juga ada Slamet palang pintu POP.ada Babud,back kanan handal. Djasdan yang gayanya perti Edwin Van de Sar,kipernya tim Nasional Belanda”’papar Farid yang juga mantan politisi serta anggota DPR.
Demikian dengan PS-Al-hilal,yang sebagian besar pemainnya keturunan Arab. Klub yang mempunyai markar di lapangan sorogenen ini,sangat hebat dan disegani. Salah satu pemain yang terkenal dengan permainan bolanya ala Brazil. Dan pemain-pemain legendarisnya,ada Dillah,Ali Kelip (mantan rektor Unissula), dan yang terlupakan pastilah Saleh Saqbal,kiper handal Al-Hilal yang pernah menggagalkan tendangan geledeknya Ramang bersama PSM Makassar saat bermain distadion Kraton Pekalongan melawan PS Al-Hilal Pekalongan”’tandas Farid.
Dulu mereka hebat,karena sepakbola benar-benar dikelola dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Seperti layaknya diposisikan sebagai “industri hiburan”. Dan dikelola dan dipimpin oleh orang-orang yang bener-bener mengerti soal falsafah sepakbola,tambah farid.
Jejak kejayaan sepakbola itu sepertinya kembali melakukan reinkarnasi,meski tak sehebat dulu. Ini dibuktikan dengan masuknya Persip ke Divisi Utama,dengan demikian diharapkan Laskar Kalong saat ini bisa meneruskan prestasi Kasmuri dan Mubarak Kelip,menjadi anggota Tim Nasional Garuda kita.
Hebatnya lagi sebagaimana tercatat dalam buku Voetbal 40 Jarr in Nederlands indie,1894-1934 karya W.Berrety. THH merupakan salah satu klub asal Pekalongan yang mengikuti kompetisi yang diadakan NIVU ( Nederlandsche Indishe Voetbal Unie ) atau perkumpulan sepakbola yang diadakan oleh Hindia Belanda.
Tidak mengherankan bila tapak sejarah itu kini mulai dirintis kembali oleh laskar kalong Persip yang mampu menembus level Divisi Utama.
Hadirnya Olahraga Sepakbola di Kota Pekalongan,memang memiliki sejarah yang panjang dan cukup mengakar.pada dekade 1950 – 1960,prestasi sepakbola Pekalongan mulai terangkat naik. Kesebelasan Persip waktu itu,selalu menjadi langganan uji coba Tim Nasional Indonesia asuhan pelatih legendaris Toni Poganic, demikian ungkap pemain legendaris Persip Pekalongan dan juga mantan Pemain Nasional Mubarak Sulaiman.
Menurutnya,”Persip selalu menjadi pilihan uji coba kesebelasan nasional. Pardeteks dan Persija yang waktu itu juara Perserikatan sering meminta ujicoba sebelum mereka melakoni pertandingan internasional di jepang,” ungkapnya.
Sementara lapangan stadion menjadi lokasi ajang pertandingan Persip kala itu dengan Putra Parahiyangan Bandung,Persebaya,PSM Makasar,PSIS Semarang,UMS 80,Jayakarta dan mahesa Jakarta. Diakauinya,dahulu setiap hari jumat hampir pasti ada pertandingan melawan klub-klub besar tanah air di stadion kraton.
Seringnya Persip melakukan pertandingan itulah akhirnya terpantau bisa masuk Tim Nasional.
Meski kala itu belum ada Televisi seperti sekarang,tapi antusiasme warga pekalongan terhadap sepakbola sangat tinggi. Waktu itu sepakbola sangat di gandrungi merata hampir setiap kampung.
Bahkan warga mulai dari batang hingga Comal pemalang,selalu berduyun-duyun datang ke stadion Kraton dengan naik oplet,”gelinding” atau dokar dan sebagian lagi naik sepeda onthel,ungkap Mubarak Sulaiman Kelip yang kini tinggal di salah satu rumah di jalan H.Agus Salim.
DISEGANI
Tak hanya Persip yang menjadi idola kala itu,tapi juga klub sepakbola yang juga sangat disegani oleh tim dari luar pekalongan. Seperti kesebelasan Al-Hilal dan POP,kedua klub ini memiliki segudang pemain berbakat,yang kemudian beberapa orang diantaranya memperkuat timnas Indonesia.
Menurut Farid Akhwan budayawan yang tinggal di pekajangan,mengatakan” cukup banyak pemain-pemain legendaris PS.POP yang ngetop waktu itu seperti Kasmuri dan beerapa pemain hebat lainnya,kita mengenal kakaknya Kasmuri yaitu Wahyono yang bermain sebagai gelandang. Lalu Sukirman kanan dalam. Barki kiri luar. Barki ini mengingatkan kita pada Ryan Giggs pemain sayapnya MU. Juga ada Slamet palang pintu POP.ada Babud,back kanan handal. Djasdan yang gayanya perti Edwin Van de Sar,kipernya tim Nasional Belanda”’papar Farid yang juga mantan politisi serta anggota DPR.
Demikian dengan PS-Al-hilal,yang sebagian besar pemainnya keturunan Arab. Klub yang mempunyai markar di lapangan sorogenen ini,sangat hebat dan disegani. Salah satu pemain yang terkenal dengan permainan bolanya ala Brazil. Dan pemain-pemain legendarisnya,ada Dillah,Ali Kelip (mantan rektor Unissula), dan yang terlupakan pastilah Saleh Saqbal,kiper handal Al-Hilal yang pernah menggagalkan tendangan geledeknya Ramang bersama PSM Makassar saat bermain distadion Kraton Pekalongan melawan PS Al-Hilal Pekalongan”’tandas Farid.
Dulu mereka hebat,karena sepakbola benar-benar dikelola dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Seperti layaknya diposisikan sebagai “industri hiburan”. Dan dikelola dan dipimpin oleh orang-orang yang bener-bener mengerti soal falsafah sepakbola,tambah farid.
Jejak kejayaan sepakbola itu sepertinya kembali melakukan reinkarnasi,meski tak sehebat dulu. Ini dibuktikan dengan masuknya Persip ke Divisi Utama,dengan demikian diharapkan Laskar Kalong saat ini bisa meneruskan prestasi Kasmuri dan Mubarak Kelip,menjadi anggota Tim Nasional Garuda kita.
Sabtu, 17 Mei 2014
ULTRAS
Ultras diambil dari bahasa latin yang mengandung artian ‘di luar kebiasaan’. Kalangan ultras tidak pernah berhenti menyanyi mendengungkan yel-yel lagu kebangsaan tim mereka selama pertandingan berlangsung. Mereka juga rela berdiri sepanjang pertandingan berlangsung (karena negara-negara yang terkenal dengan ultras nya seperti Argentina dan Italia, menyediakan tribun berdiri di dalam salah satu sudut stadion mereka). Selain itu pun para ultras paling senang menyalakan kembang api atau petasan di dalam stadion karena hal itu didorong untuk mencari perhatian, bahwa mereka hadir di dalam kerumunan manusia di dalam stadion.
“As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement. This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than everybody else “.
Nukilan kalimat dari seorang anggota Brigate Rossonere, salah satu ultras AC Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung.
Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung 'teatrikal' yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Model tersebut sekarang telah begitu mendominasi di Pran...cis, dan bisa dibilang telah memberi pengaruh pada suporter Denmark 'Roligans', beberapa kelompok suporter tim nasional Belanda dan bahkan suporter Skotlandia 'Tartan Army'.
Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk & panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (flares) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil koreografi, dipimpin oleh seorang CapoTifoso yang menggunakan megaphones untuk memandu selama jalannya pertandingan.
Dalam tradisi calcio, ultras adalah "baron" dalam stadion. Mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan curva. Ultras tersebut menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva itu.
Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurra). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an.
Fenomena ultras sendiri diilhami dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir 1960-an. Alhasil, sejatinya ultras adalah simpati politik dan representasi ideologis. Setiap ultra memiliki basis ideologi dan aliran politik yang beragam, meski mereka mendukung klub yang sama. Ultras memiliki andil "melestarikan" paham-paham tua seperti facism, dan komunism socialism.
Mayoritas ketegangan antar suporter disebabkan oleh perbedaan pilihan ideologis daripada perbedaan klub kesayangan. Untungnya, dalam tradisi Ultras di Italia terdapat kode etik yang namanya Ultras codex. Salah satu fungsi kode etik itu "mengatur" pertempuran antar ultras tersebut bisa berlangsung lebih fair dan "berbudaya". Salah satu etika itu adalah dalam hal bukti kemenangan, maka bendera dari ultras yang kalah akan diambil oleh ultras pemenang. Kode etik lainnya ialah, seburuk apapun para tifosi itu mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.
Dewasa ini, ultras kerap dipandang sebagai lanjutan atau warisan dari periode ketidakpastian dan kekerasan politik 1960-an hingga 1970-an. Berbagai kesamaan pada tindak tanduk mereka disebut sebagai bukti dari sangkut paut ini. Kesamaan-kesamaan itu tampak pada nyanyian lagu - yang umumnya digubah dari lagulagu komunis tradisional - lambaian bendera dan panji, kesetiaan sepenuh hati pada kelompok dan perubahan sekutu dengan ultras lainnya, dan, tentunya, keikutsertaan dalam kekacauan dan kekerasan baik antara mereka sendiri dan melawan polisi!
Ultras itu sekelompok supporter tetapi dia sangat fanatik trhadap tim yg di dukung'a.. selalu mengibarkan panji2 kebesaran tim yg mereka dukung.. mereka bukan supporter biasa yg hanya duduk dan diem aja di stadion,. tetapi mereka itu atraktif, selalu menyanyikan lagu2 buat tim'a, membawa bendera besar ke stadion, membawa Red Flare, nampilin banner yg besar di stadion, menampikan Coreography dan satu yg penting.. "MEREKA SELALU BERDIRI SELAMA MENONTON PERTANDINGAN SAMBIL BERNYANYI UNTUK MENDUKUNG TIMNYA.."
mereka tergolong supporter yang ekstrim dlm bertindak (GARIS KERAS).. mereka jg memiliki ideologi politik tersendiri yg di anut, seperti Politik Sayap Kiri atau Sayap Kanan.. yg Sayap Kiri cenderung Ekstrim dlm bertindak, smentara yg Sayap Kanan masih patuh sma aturan, gag terlalu ekstrim klo bertindak..
oia, Ultras itu biasanya memiliki basis tersendiri di Stadion,.
seperti Ultras di Eropa , mereka selalu menetapi Tribun blakang gawang...
maka'a sebutan mereka adalah Curva Sud/ Curva Nord (Sud= Selatan , Nord= Utara).. gag pernah ada sebutan Curva Est dan Curva Covest..
Ultras sendiri punya kode etik di antara Ultras.. yaitu, mereka klo fight itu sifat'a open fight.. untuk merebut Banner/ bendera kebesaran yg jd simbol suatu grup Ultras.. dlm fight tersebut, mereka di larang melibatkan Polisi, karna Polisi itu HARAM.. A.C.A.B (All Cops Are Bastard)
Curva/ Tribun bagi Ultras, POLISI gag boleh masuk
“As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement. This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than everybody else “.
Nukilan kalimat dari seorang anggota Brigate Rossonere, salah satu ultras AC Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung.
Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung 'teatrikal' yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Model tersebut sekarang telah begitu mendominasi di Pran...cis, dan bisa dibilang telah memberi pengaruh pada suporter Denmark 'Roligans', beberapa kelompok suporter tim nasional Belanda dan bahkan suporter Skotlandia 'Tartan Army'.
Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk & panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (flares) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil koreografi, dipimpin oleh seorang CapoTifoso yang menggunakan megaphones untuk memandu selama jalannya pertandingan.
Dalam tradisi calcio, ultras adalah "baron" dalam stadion. Mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan curva. Ultras tersebut menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva itu.
Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurra). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an.
Fenomena ultras sendiri diilhami dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir 1960-an. Alhasil, sejatinya ultras adalah simpati politik dan representasi ideologis. Setiap ultra memiliki basis ideologi dan aliran politik yang beragam, meski mereka mendukung klub yang sama. Ultras memiliki andil "melestarikan" paham-paham tua seperti facism, dan komunism socialism.
Mayoritas ketegangan antar suporter disebabkan oleh perbedaan pilihan ideologis daripada perbedaan klub kesayangan. Untungnya, dalam tradisi Ultras di Italia terdapat kode etik yang namanya Ultras codex. Salah satu fungsi kode etik itu "mengatur" pertempuran antar ultras tersebut bisa berlangsung lebih fair dan "berbudaya". Salah satu etika itu adalah dalam hal bukti kemenangan, maka bendera dari ultras yang kalah akan diambil oleh ultras pemenang. Kode etik lainnya ialah, seburuk apapun para tifosi itu mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.
Dewasa ini, ultras kerap dipandang sebagai lanjutan atau warisan dari periode ketidakpastian dan kekerasan politik 1960-an hingga 1970-an. Berbagai kesamaan pada tindak tanduk mereka disebut sebagai bukti dari sangkut paut ini. Kesamaan-kesamaan itu tampak pada nyanyian lagu - yang umumnya digubah dari lagulagu komunis tradisional - lambaian bendera dan panji, kesetiaan sepenuh hati pada kelompok dan perubahan sekutu dengan ultras lainnya, dan, tentunya, keikutsertaan dalam kekacauan dan kekerasan baik antara mereka sendiri dan melawan polisi!
Ultras itu sekelompok supporter tetapi dia sangat fanatik trhadap tim yg di dukung'a.. selalu mengibarkan panji2 kebesaran tim yg mereka dukung.. mereka bukan supporter biasa yg hanya duduk dan diem aja di stadion,. tetapi mereka itu atraktif, selalu menyanyikan lagu2 buat tim'a, membawa bendera besar ke stadion, membawa Red Flare, nampilin banner yg besar di stadion, menampikan Coreography dan satu yg penting.. "MEREKA SELALU BERDIRI SELAMA MENONTON PERTANDINGAN SAMBIL BERNYANYI UNTUK MENDUKUNG TIMNYA.."
mereka tergolong supporter yang ekstrim dlm bertindak (GARIS KERAS).. mereka jg memiliki ideologi politik tersendiri yg di anut, seperti Politik Sayap Kiri atau Sayap Kanan.. yg Sayap Kiri cenderung Ekstrim dlm bertindak, smentara yg Sayap Kanan masih patuh sma aturan, gag terlalu ekstrim klo bertindak..
oia, Ultras itu biasanya memiliki basis tersendiri di Stadion,.
seperti Ultras di Eropa , mereka selalu menetapi Tribun blakang gawang...
maka'a sebutan mereka adalah Curva Sud/ Curva Nord (Sud= Selatan , Nord= Utara).. gag pernah ada sebutan Curva Est dan Curva Covest..
Ultras sendiri punya kode etik di antara Ultras.. yaitu, mereka klo fight itu sifat'a open fight.. untuk merebut Banner/ bendera kebesaran yg jd simbol suatu grup Ultras.. dlm fight tersebut, mereka di larang melibatkan Polisi, karna Polisi itu HARAM.. A.C.A.B (All Cops Are Bastard)
Curva/ Tribun bagi Ultras, POLISI gag boleh masuk
Jumat, 16 Mei 2014
BRIGATA BATIK CITY
Brigata Batik City atau lebih dikenal dengan sebutan BBC adalah salah satu komunitas pendukung / supporter kesebelasan Persip Pekalongan. Brigata Batik City bermarkas di tribun Selatan Stadion Kota Batik yang juga dipakai sebagai nama komunitas tersebut "Curva Sud". Brigata Batik City berbeda dengan suporter sepakbolaIndonesia pada umumnya, mereka memiliki cara unik tersendiri untuk mendukung tim kesayangannya Persip Pekalongan. Salah satunya, melakukan koreografi disaat pertandingan berlangsung seperti ultras-ultras di Italia pada umumnya. Brigata Batik City mewajibkan anggotanya untuk memakai sepatu dan berpakaian rapi disaat mendukung tim kebanggaan mereka Persip Pekalongan
Saat mendukung Persip Pekalongan, mereka bernyanyi selama selama 2x45 menit dan uniknya mereka tidak pernah menyanyikan chant yang berbau rasis seperti kebanyakan suporter sepakbola di Indonesia. Chant mereka pun berbeda dengan suporter Indonesia kebanyakan, Brigata Batik City menyanyikan lagu yang masih asing bagi telinga awam penikmat sepakbola Indonesia karena liriknya pun yang terkadang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Italia.
Brigata Batik City tidak mengenal struktur kepengurusan dan juga pemimpin seperti dalam mottonya "No Leader Just Together", hal ini dimaksudkan agar seluruh anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam setiap pengambilan keputusan dan melaksanakan kebijakan yang telah disepakati. Tanpa kepengurusan, BBC bukan berarti liar tak terkendali. BBC punya cara sendiri untuk menjaga etika dalam memberikan dukungan kepada klub Persip Pekalongan. Brigata Batik City terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan puluhan hingga ratusan, dalam kelompok-kelompok tersebut diorganisir oleh satu koordinator yang telah ditunjuk oleh kelompoknya. Dalam mengambil kebijakan, koordinator-koordinator komunitas tersebut berkumpul untuk membahas persoalan yang ada sehingga mencapai kesepakatan bersama. Setelah mendapat kesepakatan, koordinator menyampaikannya ke anggota komunitasnya. Selain itu, Brigata Batik City juga menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan.
Saat mendukung Persip Pekalongan, mereka bernyanyi selama selama 2x45 menit dan uniknya mereka tidak pernah menyanyikan chant yang berbau rasis seperti kebanyakan suporter sepakbola di Indonesia. Chant mereka pun berbeda dengan suporter Indonesia kebanyakan, Brigata Batik City menyanyikan lagu yang masih asing bagi telinga awam penikmat sepakbola Indonesia karena liriknya pun yang terkadang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Italia.
Brigata Batik City tidak mengenal struktur kepengurusan dan juga pemimpin seperti dalam mottonya "No Leader Just Together", hal ini dimaksudkan agar seluruh anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam setiap pengambilan keputusan dan melaksanakan kebijakan yang telah disepakati. Tanpa kepengurusan, BBC bukan berarti liar tak terkendali. BBC punya cara sendiri untuk menjaga etika dalam memberikan dukungan kepada klub Persip Pekalongan. Brigata Batik City terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan puluhan hingga ratusan, dalam kelompok-kelompok tersebut diorganisir oleh satu koordinator yang telah ditunjuk oleh kelompoknya. Dalam mengambil kebijakan, koordinator-koordinator komunitas tersebut berkumpul untuk membahas persoalan yang ada sehingga mencapai kesepakatan bersama. Setelah mendapat kesepakatan, koordinator menyampaikannya ke anggota komunitasnya. Selain itu, Brigata Batik City juga menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan.
Langganan:
Komentar (Atom)

